Pages

Gedung MA. STIBA - Lantai 2

Ruang proses KBM MA. Sirojut Tholibin saat ini masih bergabung dengan Gedung MTs.

Gedung Lab. PAI MTs-MA STIBA

Gedung Lab. PAI sebagai sarana penunjang kegiatan PAI.

Gedung MTs - MA. - Tampak Depan

Mulai tahun 2011 sudah direncanakan pembangunan gedung baru.

Sebagian Dewan Asatidz - 2012

Personalia Guru dan Tenaga Kependidikan MA. STIBA berkomitmen mengutamakan kebersamaan.

Kegiatan PBB Santri MA.STIBA

Siswa-siswi MA. STIBA di kegiatan PBB dalam rangka HUT-RI.

Rabu, 24 Oktober 2012

ZIARAH Ke- MADURA

STIBA in  Tour
Dalam waktu dekat ini Siswa-siswi MA. Sirojuth Tholibiin akan mengadakan Ziarah wali Madura. Acara ini diselenggarakan rutin setiap tahun yang dipelopori oleh OSIS MA. STIBA. Ziarah madura ini biasanya  mengunjungi ke makam-makam auliya yang ada di tanah celurit itu seperti makam syeh Kholil bangkalan, Aer mata ibu, makam syeh Syamsudin Pamekasan, Syeh Yusuf Kalianget dan masih banyak yang lainnya. Namun meski bendera yang dibawa adalah dalam rangka ziaroh tetap saja ada sebagian tujuan diarahkan ke tempat wisata seperti api alam, pantai-pantai, atau tempat-tempat wisata yang ada di Surabaya. Seperti ziarah-ziarah madura lainnya, STIBA Tour inipun tetap menarik biaya dari anggotanya yang tersiri dari siswa-siswi MA. Sirojuth Tholibiin itu sendiri. Seperti biasanya biaya perjalan sekaligus yang lain-lain ini berkisar Rp. 100 sampai dengan Rp. 110.000,- tidak termasuk asuransi hidup. Pemberangkatan dimulai dari sekolah menuju tempat-tempat tujuan dan Untuk sampai ke rumah kembali biasanya akan memakan waktu selama dua hari dua malam.  
   Manfaat dari kegiatan ini ya tidak lain adalah untuk mengingatkan kita akan hal  kematian. Bahwa bagaimanpun cantiknya orang bagaimanapun pinter seseorang, pasti suatu waktu mengalami kematian. Itu tujuan utama ziaroh akan tetapi kalau untuk standard anak-anak seusia SMA ya mungkin saja berfariasi. Ada yang berangkat dari rumah untuk melepas kejenuhan karena sekian hari cuma belajaaaar melulu, ada juga yang berziarah untuk arena berbelanja, dan masih banyak lagi tujuan-tujuan yang lain. Namun meskipun demikian hal ini tidak akan menyurutkan niatan kita untuk tetap menguri-uri budoyo jawi ini.

BANGSA ARAB PRA-ISLAM


Secara umum, bangsa Arab pra Islam terbagi dalam dua kelompok besar; Bangsa Aribah dan Bangsa Muta’rribah. Bangsa Aribah mendiami wilayah Yaman dan terdiri dari beberapa kabilah. Mereka adalah keturunan dari Qathan yang dalam kitab Taurat disebut Yaqzan. Selama ratusan tahun lamanya, Bangsa Aribah pernah berjaya dengan mendirikan kerajaan-kerajaan besar yang melahirkan kebudayaan dan peradaban tinggi di zamannya. Mereka membangun kota-kota dan mendirikan istana-istana megah dengan arsitektur yang bermutu tinggi. Bangsa Aribah sudah mampu mengolah pertanian mereka dengan sistem irigasi, disamping ahli dalam seni ukir, ahli dalam ilmu nujum atau perbintangan, memiliki angkatan perang yang tangguh, dan mengadakan hubungan dagang dengan negara-negara tetangga.[1]
Sedangkan Bangsa Muta’arribah adalah keturunan dari Nabi Ismail as. Mereka mendiami kawasan Hijaz, yakni sebelah utara kawasan yang didiami Bangsa Aribah. Mereka dinamakan Bangsa Muta’arribah karena nenek moyak mereka yang pertama, Nabi Ismail as. tidak berbahasa asli Arab, melainkan berbahasa Ibrani dan Suryani. Menurut catatan sejarah, kedatangan Nabi Ismail ke Arab berawal ketika beliau bersama ibunya, Siti Hajar, dibawa oleh bapaknya, Nabi Ibrahim as. ke Mekkah dan menetap di sana. Nabi Ismail dan Siti Hajar berbaur bersama pendduduk setempat, yakni kabilah Jurhum dari Bangsa Qathan, yang telah lebih dahulu mendiami Mekkah. Dari kabilah Jurhum inilah Nabi Ismail mengenal bahasa Arab, dan setelah dewasa menikah dengan salah seorang gadis keturunan kabilah Jurhum tersebut. Dari pernikahan itu, Nabi Ismail dikaruniai 12 orang anak yang di kemudian hari menjadi cikal-bakal keturunan Kuraisy.[2] Di Mekkah ini pula Nabi Ismail menyiarkan agama tawhid yang dibawanya.

 

Kependudukan

Bila ditinjau dari segi daerah tempat tinggal, bangsa Arab yang wilayahnya terdiri dari padang pasir dan steppa, pada masa sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW. dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yakni penduduk pedalaman (Badui/A’rabi) dan penduduk perkotaan. Penduduk pedalaman tidak mempunyai tempat tinggal permanen. Mareka adalah kaum nomad yang hidup berpindah-pindah dari satu kawasan ke kawasan lain bersama binatang ternak mereka untuk mencari sumber mata air dan padang rumput yang subur (oase). Kaum Badui ini hidup dari beternak kambing dan memerah susunya sebagai konsumsi sehari-hari. Sedangkan penduduk perkotaan sudah memiliki tempat tinggal tetap di kota-kota kecil secara terisah-pisah di berbagai kawasan. Mereka sudah memiliki beragam keterampilan seperti berdagang, bercocok tanam, atau beternak.
Baik penduduk perkotaan maupun pedalaman, mereka semua hidup berkabilah-kabilah atau bersuku-suku sesuai garis keturunan (klan). Oleh karena itu, seringkali terjadi perselisihan antar kabilah yang meyebabkan pertumpahan darah antar mereka.

 

Budaya

Sejak sebelum kedatangan Islam, Bangsa Arab dikenal memiliki kebudayaan non-materiil yang dilestarikan secara turun-temurun. Di kalangan mereka banyak para pujangga, penyair, penutur cerita prosa, atau penungang kuda yang tangkas. Kelebihan-kelebihan seperti itu menjadi syarat mutlak diraihnya status sosial, baik di kabilahnya sendiri maupin di hadapan kabilah lain.

Dalam bidang sastra, masyarakat Arab menempatkannya layaknya ajaran agama yang sakral. Dalam membuat suatu keputusan hukum sekalipun, bangsa Arab umumnya selalu merujuk pada syair-syair yang mereka dengar. Besarnya peran syair dalam konstruksi sosial Bangsa Arab terlihat dari kebiasaan mereka, dimana perselisihan antar suku, perebutan status sosial, hingga terjalinya hubungan harmonis antar kabilah, umumnya disebabkan oleh pengaruh syair-syair ini. Setiap kabilah akan merasa bangga jika ada diantara warga mereka ada yang menjadi ahli syair. Mereka memposisikan syair-syair laksana kalam hikmah yang harus diikuti dan ditaati, sementara penyairnya dinilai sebagai nabi yang memiliki kapasitas keilmuan mumpuni. Jika satu kabilah mempunyai warga yang sangat ahli dalam bidang syair, maka mereka akan mengundangnya ke tempat-tempat keramaian seperti pasar tahunan, atau dalam acara-acara ritual seperti pelaksanaan haji.[3]

Nama-nama penyair yang sangat populer dan mempunyai posisi terhormat dalam pandangan masyarakat Arab, antara lain, Imri’ al-Qais, Nabighah al-Dzibyani, Zuhair bin Abi Salma, dan al-A’sya.[4] Nama-nama inilah yang dinilai oleh masyarakat Arab sebagai dewa-dewa kesusastraan Arab yang selalu diidolakan dan diagung-agungkan. Setiap patah kata yang jekuar dari mulut mereka laksana sabda Nabi yang harus didengarkan dan dipatuhi.

Disamping kebangggaan dalam bidang kesusasteraan, bangsa Arab juga memuja-muja kekuatan dan ketangkasan individual. Identitas sosial bagi setiap individu banyak didasarkan pada aspek kekuatan, keperkasaan, ketangkasan, kemahiran, dan keahlian-keahlian tertentu lainnya, seperti menunggang kuda, memanah, memainkan pedang, dan lain sebagainya.

Hal lain yang menjadi ciri khas kabilah-kabilah Arab adalah kesetiaan dan solidaritas antar kelompok. Kesetiaan menjadi sumber kekuatan utama setiap suku. Bahkan bila diantara anggota suku ada yang membelot, maka hukumannya adalah mati.


Konstruksi Sosial

Setiap kabilah di seluruh semenanjung Arab umumnya dibentuk oleh beberapa keluarga atau garis keturunan (klan) dan mendiami sebuah tempat tertentu secara turun temurun. Mereka membentuk satu kelompok kesukuan yang dipimpin oleh seorang kepala suku yang disebut syeikh (maha guru). Sang kepala suku memiliki posisi sangat terhormat di mata setiap anggota suku. Segala persoalan hidup setiap anggota suku selalu dimintai pertimbangan kepadanya, mulai hal-hal yang kecil seperti pernikahan, waris-mewaris, hingga persengketaan tanah, maupun perkara besar yang berhubungan dengan nasib orang banyak, seperti peraturan kesukuan, pembangunan tempat-tempat umum, atau sengketa antar suku. sebagai contoh, ketika segolongan anggota Bani Nazzar berselisih soal tanah warisan, mereka lalu meminta salah satu tokohnya, al-Af’a bin al-Af’a al-Jurhumi, guna


[1] Ensiklopedi Islam, Katalog Dalam Terbitan (KDT), pen. PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, vol. Kelima tahun 1999, huruf “A” hal. 154-155.
[2] Kisah selengkapnya, lihat Ahmad Fahmi Muhammad, catatan kaki al-Milal wa al-Nihal, Abdul Karim al-Syahrastani, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, tt. Jilid 3, hal. 647.
[3] al-Abbasi, Op. cit., jilid 1 hal. 261.
[4] Ibid.

Kelas XII


Selasa, 23 Oktober 2012

login member

Ini  adalah forum komunikasi untuk para siswa-siswi MA. STIBA pada hususnya dan umumnya untuk para santri Sirojuth Tholibiin terlebih lagi untuk masyarakat luas..
Silahkan register terlebih dahulu untuk mendaftarkan diri anda.


ASBAC (Asosiasi Santri Bacem)
Berikut ini adalah info untuk sirojut tholibiin

Minggu, 21 Oktober 2012

Puisi Siswa


Hidupku terasa begitu tak berguna, aku merasa tidak bebas lagi untuk bernafas. Bumi yang injak-injak selama ini seakan tak rela lagi untuk aku tempati. Angin-angin yang aku hirup, air-air yang aku minum semuanya tak mau lagi mengantarkan kehidupanku. Tak terhitung lagi sudah berapa dosa yang kuperbuat. Ya Alloh ampunilah dosa hambaMu ini.
            Bukannya aku bodoh akan semua larangan bukan tuli akan perintah tapi aku tak kuasa melawan musuh-musuh yang Engkau ciptakan ini. Setiap kali aku melihat ketidak sesuaian dengan apa yang Engkau anggap itu adalah kebaikan perasaan ini selalu mengelak menolak dengan mencari dalih-dalih untuk membenarkan walaupun itu adalah merupakan kesalahan yang sudah Engkau tetapkan sebelum bumi ini Engkau ciptakan. Aku memang seperti ini ….
            Sebenarnya perasaan ini tahu akan segala kesakahan, dan memang kesalahan yang timbul ini adalah dari tingkah laku hambaMu ini yang masih bodoh. Kesempatan-kesempatan yang terbaik untuk bersimpuh dalam pangkuanMu pun aku lewatkan begitu saja. Ah…Ya Allooooh ampunilah dosa hambaMu yang lemah ini. Hamba yang tak berguna hamba tak pantas lagi mengenakan sragam kesantrian hamba tak pantas menjadi santri romo yai. Isyarat-isyarat yang Engkau berikan melaluinya sepertinya telah jelas menunjukan bahwa aku memang hamba yang tak bisa berbuat banyak untuk tuannya. Aku ingin sekali menempuh jalanMu Ya Alloh.. namun jalan mana yang paling tepat yang harus aku lalaui untuk menuju Engkau Ya Alloh.

Laksana mentari beringsut dihamparan jingga
Melelehkan embun-embun tak bermaya
Menggantikan semangat mentari pada bunga-bunga bermekaran
Pada rumput yang beroyang
Diluas padang ilalang

Bukan tak ada orang yang mau menasehatiku
Namun nasehat itu kuabaikan
Namun teguran itu tak sedikitpun menepis
Lalat yang hinggap dipipi

Mungkin setansetan pada jingkrak-jingkrak
Menyaksikan keadaanku yang seburuk ini
Malaikat rokib sudah tutup pena
Atau atid sudah kehabisan tintanya untuk mencatat kejelekanku ini

KECERDASAN EMOSIONAL (EQ)


1.      KESADARAN DIRI  :
-          kesadaran emosi diri
-          penilaian pribadi
-          percaya diri

2.      PENGATURAN DIRI :
-          pengendalian diri
-          dapat dipercaya
-          waspada
-          adaptif
-          inovatif

3.      MOTIVASI      :
-          Dorongan berprestasi
-          Komitmen
-          Inisiatif
-          Optimis

4.      EMPATI  :
-          memahami orang lain
-          pelayanan
-          mengembangkan orang lain
-          mengatasi keragaman
-          kesadaran politis

5.      KETRAMPILAN SOSIAL  :
-          pengaruh
-          komunikasi
-          kepemimpinan
-          katalisator perubahan
-          manajement konflik
-          pengikat jaringan
-          kolaborasi dan koperasi
-          kerja tim